Pengumpan:
Tulisan
Komentar

sbyPresiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengumumkan susunan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10) pukul 22.00. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang akan menjabat pada periode tahun 2009-2014.

1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Assegaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng

Pejabat Negara:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan
***

Sumber:
Kompas.com

Tampil dengan kostum yang kontras sebatas dada dihiasi make up yang medhok-merok dan bau parfum yang menyengat hidung, kemudian berlenggang-lenggok di atas gelaran tikar merupakan ciri khas sripanggung pertunjukan tayub. Masyarakat Grobogan menyebutnya sebagai ledhek. Mereka tampil jika diundang oleh warga desa yang kebetulan punya hajat, entah itu khitanan maupun resepsi perkawinan.

Keberadaan ledhek di tengah-tengah masyarakat Grobogan yang mayoritas hidup dalam lingkungan agraris nyaris menyaingi seni hiburan lain semacam wayang kulit, wayang orang, atau ketoprak. Seni tayub masih diuri-uri meski hiburan berbau elektronik sejenis video juga muncul scara sporadis jika kebetulan ada warga desa yang punya hajat. Apakah ini merupakan kompensasi warga desa yang haus hiburan di sela-sela rutinitas pekerjaan bertaninya yang membelenggu ataukah memang telah kadung menjadi tradisi yang mengilus-sumsum sehingga kalau ditinggalkan ada gendam yang musti ditanggung?

Seremoni Nazar
Konon, dulu seni tayub hanyalah sebuah tontonan perlengkapan seremoni nazar bagi warga desa yang kebetulan punya uni alaias nazar. Masyarakat Grobogan meyakini adanya mitos, jika pernah punya nazar, tetapi tidak segera dilaksanakan setelah niatnya tercapai, maka yang bersangkutan akan dirundung malapetaka. Misalnya, ada anggota keluarga yang sakit parah, bahkan sampai meninggal dunia atau dapat pula berubah musibah fatal yang lain. Sebagai medium pengabulan nazar, diundanglah ledhek untuk menolak musibah yang bakal datang. Selain itu, juga sebagai pengucapan rasa syukur kepada Hyang Widhi atas niat dan maksudnya yang telah terkabul. Lama pertunjukan cukup singkat sekitar 1-2 jam. Konon, mantra-mantra yang diucapkan sang ledhek itulah yang sanggup meredam segala musibah.

Dengan iringan gamelan yang mengalun, sang ledhek mulai mengucapkan matra dalam bentuk tembang. Ada suasana sakral di sana. Di tengah asap dupa yang membubung dengan segenap uba rapenya semacam ayam panggang, keris, onggokan pisang, ketupat, dan beras putih, sang ledhek tak henti-hentinya mengucapkan mantra sambil menyebar beras putih ke segala penjuru sebagai tulak balak: “…ana sengkala saka kulon tinulak bali mangulon. Sing nulak balak Raja Iman Slamet …” (ada musibah dari barat ditolak kembali ke barat. Yang menolak Raja Iman Selamat) ….” Byur! Beras putih disebar ke arah barat. Demikian seterusnya higga tujuh kali sesuai dengan arah yang disebutkan. Setelah sang ledhek selesai mengucapkan mantra dalam bentuk tembang, tamatlah pertunjukan sebagai pertanda bahwa nazar telah dilaksanakan. Mereka yakin, musibah tak mungkin muncul sekaligus sang empunya nazar terhindari dari segala petaka.

Namun, seirama perkembangan seni hiburan di daerah pelosok pedesaan, seni tayub kini berubah fungsi, suasana, dan temponya. Dari fungsinya sebagai perlengkapan seremonial nazar beralih fungsi sebagai hiburan semata. Suasana sakral pun sirna berganti suasana hingar-bingar di tengah musik gamelan yang membubung ditingkah ketipak kendang yang keras membentak. Tempo pertunjukannya pun berlangsung semalam suntuk alias byar klekar seperti hiburan lain pada umumnya.
 
Seronok
Tayub, konon merupakan jarwa-dhosok (akronim) “Yen ditata dadi guyub” (kalau ditata jadi guyup/rukun). Ada makna harfiahnya. Pertunjukan tayub yang melibatkan ± lima pria sebagai penayub dengan dua atau tiga ledhek sebagai sripanggungnya, kalau ditata dan diatur nyaris mampu menampilkan suasana paguyuban yang kuyup akan nilai persaudaraan, kerukunan, dan kekeluargaan. Namun, toh akhirnya makna harfiah yang kuyup nilai itu jadi sirna lantaran dibikin sendiri oleh ulah penayubnya yang kadang seronok, hampir-hampir menjurus ke tingkah pornografi.

Lazimnya, pertunjukan dimulai pukul 21.00 didahului dengan pembukaan instrumen gamelan para niyaga. Setelah semuanya siap, sang ledhek mulai memburu mangsa yang duduk di ruang tamu. Biasanya, mangsa (baca: penayub) yang ketiban smapur atau diberi selendang oleh ledheknya memberi imbalan Rp500. pertunjukan dibagi dalam 2 tahap, yakni mulai pukul 21.00 hingga pukul 24.00 giliran pinisepuh dan warga yang tergolong usia tua dan mulai pukul 0.00 dini hari hingga selesai giliran anak-anak muda. Jika diamati, pada tahap kedualah yang paling gempar.

Boleh dibilang bahwa pada tahap ini pertunjukan mencapai puncak ekstasenya. Nyaris tak ada batas antara penonton dan para penayub. Mereka sama-sama lebur dalam suasana yang hingar-bingar. Semakin larut malam, penonton kian meruah dengan tepuk sorak yang membahana. Pada tahap kedua ini, cara menayub terbagi dalam dua teknik, yakni menari dan ngepos.

Bagi para pemuda yang terampil menari, mereka memilih cara yang pertama dengan mengundang teman-temannya –istilahnya sambatan—untuk bersama-sama menari di tengah pertunjukan. Mereka bebas memilih gending-gending Jawa yang keras dan hingar-bingar dengan suara hentakan kendang yang cukp dominan, seperti gumbul thek, kijing miring, godril, celeng mogok, goyang semarang, dan semacamnya. Sambil menari, mereka mulai bertingkah. Tubuhnya mulai menghimpit, memeluk, bahkan mencium. Penonton dari semua tingkatan usia pun bersorak tempik. Mereka bergumul tanpa malu-malu, meski dilihat oleh sanak saudara dan kerabatnya. Barangkali ini sebagai kompensasi bagi para pemuda desa yang haus hiburan di sela-sela rutinitas kesehariannya yang maton.tanpa variasi.

Sedangkan, bagi para pemuda yang tak becus menari, cukup dengan ngepos, yakni duduk di kursi panjang sambil memangku sang ledhek. Mereka mirip benar dnegan insan manusia yang tengah dimabuk asmara. Dengan diiringi gending-gending Jawa yang rata-rata halus-romantis, semacam sida asih, lara branta, rujak jeruk, yen ing tawang ana lintang, dan sebagainya, mereka mulai bertingkah seronok seolah-olah benar-benar ingin melampiaskan rupa birahinya yang menggelora.

Bisa dipastikan, bila ada orang punya hajat, jauh-jauh hari mereka mengumpulkan uang. Memang beginikah sikap para pemuda desa dalam upaya menyiasati kepekaan rohani dan kodrati terhadap hiburan di abad gelombang informasi ini? Ya, barangkali memang ini merupakan siasat guna mengentaskan diri dari himpitan zaman yang menelikungnya.
 
Tanpa Beban Dosa
Ledhek, konon merupakan jarwa-dhosok dari “Elek ben angger gelem medhek-medhek” (biar jelek asal mau mendekat). Seperti kebanyak ledhek di daerah kabupaten Grobogan, modal kecantikan tak begitu penting, meski juga berpengaruh dalam hal pemasaran. Modalnya cukup dengan dandanan yang seronok dengan vokal yang lancar selama semalam suntuk ditambah dengan keberanian mendekati kaum lelaki. Dan, agaknya mereka tampil seperti layaknya menawarkan kodrat profesi, tanpa merasa dihimpit beban dosa.

Pekerjaan, apa pun bentuk dan macamnya, kalau sudah cocok dengan kehendak nurani, memang kadang-kadang tak pandang soal etika. Kalau memang pekerjaan semacam yang dilakukan oleh Tukiyem itu sudah menjadi tuntutan nuraninya, dapatlah ia dijadikan sebagai tameng pendobrak kehidupan yang kian sulit seperti sekarang ini, meski ada bias-bias tuntutan moral di sana. Para ledhek dalam kehidupan sehari-harinya pun hidup wajar bersama warga yang lain, tanpa ada beban moral yang mesti ditanggung.

Ledhek barangkali bisa disamakan dengan keberadaan cokek di Sragen, atau tandak di Surabaya yang diterjuni secara wajar-wajar saja tanpa adanya perangkat upacara perangkat penobatan. Akan tetapi, berbeda dnegan ronggeng di daerah Banyumas yang mengenal adanya tradisi bukak klambu, yang harus rela menyerahkan kehormatannya sebelum dinobatkan sebagai ronggeng. Ledhek di Grobogan, seperti layaknya profesi yang lain, diterjuni secara wajar-wajar saja. Asal ada niat dan sanggup, meluncurlah mereka ke tengah-tengah masyarakat sebagai ledhek.

Namun begitu, mengintip pertunjukan tayub Grobogan yang rata-rata menampilkan adegan seronok, perlu diadakan garis kebijaksanaan yang tegas dari pihak yang berwenang, mengingat pertunjukan ini ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal tingkatan usia. Hal ini bisa menimbulkan dampak negatif yang lebih runyam jika tidak segera mendapatkan uluran kebijakan. Apa kata anak-anak jika melihat sanak saudaranya bergumul bersama ledhek tanpa ada jarak yang memisahkan. Para orang tua seolah meneladani anak-anaknya dengan petingkah yang seronok.

Beranjak dari sisi ini, haruskah pertunjukan tayub yang nyaris hanya memburu segi tontonan dan menihilkan unsur tuntunan, mesti diuri-uri? Ya, perlu ada penegasan yang manusiawi tanpa menyinggung perasaan dan harkat warga desa yang rata-rata lugu dan polos. Paling tidak, jarak antara ledhek dan penayub perlu dibatasi. ***

Akhirnya, dunia mengakui batik sebagai produk budaya Indonesia. Unesco mengukuhkan batik ke dalam daftar representatif budaya tak benda warisan manusia atau Representative List of Intangible Cultural Heritage. Pengukuhan ini jelas menjadi kebanggaan tersendiri buat bangsa kita setelah melalui berbagai macam cara, negeri jiran, Malaysia, berupaya mengklaim sebagai produk budaya mereka.

batikbatikbatikbatikMeski demikian, kita tidak cukup hanya berpuas diri pasca-pengukuhan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2 Oktober 2009 itu. Batik tak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu terus ditumbuhkembangkan sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Dengan kata lain, batik tak hanya berhenti sebatas produk warisan budaya belaka, tetapi juga perlu terus mampu beradaptasi sesuai dengan gerak dan dinamika masyarakat pemakainya.

Dalam perspektif budaya, batik mengandung nilai filosofis yang cukup tinggi, baik dari sisi motif, cara pembuatan, hingga lamanya proses membuat selembar kain batik. Batik menyimbolkan doa dan harapan bagi pemakainya. Bukan hanya itu. Batik juga menunjukkan hasil jerih payah dan kesabaran pembuatnya.

Kurator Museum Batik Jogjakarta, Prayoga, menyatakan, tidak semua penggemar batik paham akan konsep dan filosofi di balik pembuatan kain batik. Pembuat kain batik, lanjutnya, harus dalam kondisi tenang saat membatik. Tak heran, beberapa pembatik harus berpuasa sebelum membatik. “Membatik itu butuh ketenangan. Kita tidak boleh membatik jika sedang gelisah karena akan berpengaruh langsung kepada kain yang kita batik,” tuturnya.

Membatik juga membutuhkan kesabaran dan disiplin ekstra. Dalam satu lembar kain batik, butuh beberapa kali tahap pewarnaan sebelum batik siap dipakai. “Bisa 17 kali kalau memang rumit. Dan, itu memakan waktu. Karena itu, kadang satu batik bisa dibuat hingga satu tahun,” ujarnya.

Kedisiplinan, lanjutnya, ditunjukkan dengan jumlah takaran malam yang pas. “Saat akan membatik, kita harus menakar penggunaan malam dengan pas. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jika pekerjaan kita tidak selesai, entah itu malamnya kurang atau berlebih, berarti ada yang salah dengan kita,” kata pria berusia 55 tahun ini.

Dalam budaya masyarakat Jawa, kain batik tidak hanya digunakan untuk sandang atau pakaian. Batik menunjukkan prestise dan berfungsi mengungkapkan sesuatu. “Zaman dahulu, kalau anak laki-laki mau melamar, dia harus membawa kain batik dengan motif tertentu kepada orang tua si gadis. Dia tinggal menyerahkan dan orang tua langsung tahu apa maksudnya,” terangnya.

Dalam perspektif budaya Jawa, setiap motif batik memiliki kandungan makna yang berbeda-beda.
1.Batik Parang atau lereng menurut pakemnya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem (anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya.

2. Jenis batik truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.

3. Batik sidamukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sidamukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti, maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.

4. Batik sido drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan. Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik. Bagi anak-anak batik dipaki dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat. Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.

Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar khendak suami.

Semoga pengukuhan batik oleh Unesco terus mengilhami para perajin batik untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam menciptakan motif-motif batik yang sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman, hingga akhirnya tak ada negeri lain yang bisa mengklain batik sebagai produk budaya mereka. ***

Jumat, 25 September 2009, saya mendapatkan kehormatan menerima kedatangan Mas Khika. Ini untuk yang kedua kalinya bloger yang tengah getol mengelola taman baca itu menyambangi gubug saya. Kedatangan yang pertama terjadi sekitar bulan Maret 2009 yang lalu.

Ketika saya mudik beberapa hari sebelumnya, lelaki muda yang masih suka mengembara di sela-sela rutinitas kesehariannya di dunia IT itu memang sempat kontak saya melalui HP. Dia mengabarkan kalau dia sudah berada di Batang, sebuah kota yang bertetangga dekat dengan Kendal. Seperti biasanya, saya mengharapkan Mas Khika untuk bermain ke Kendal jika ada waktu. Alhamdulillah, bloger yang selama ini bermukim di Bogor itu akhirnya benar-benar datang ke gubug saya.

KhikaKhikaKarena masih harus melanjutkan perjalanan ke Batang, Mas Khika tak bisa berlama-lama ngobrol dengan saya, apalagi keesokan harinya, dia akan menyempatkan diri untuk datang ke markas Jogloabang yang tengah punya hajat menggelar acara halal-bihalal, yang kemudian hendak diteruskan untuk bertemu dengan Mas Totok Sugiarto di puncak Gunung Kelir. Sebelum kabar ini saya sampaikan kepada Mas Khika, saya memang sempat di-sms Mas Ciwir perihal hajat itu. Saya diundang untuk bisa datang ke markas Demang Suryaden itu. Sang Bayang pun juga sempat kontak saya lewat telepon untuk memastikan bisa tidaknya saya datang dalam momen silaturahmi lebaran di Sleman itu.

JogloabangNamun, dengan berat hati, saya tidak bisa ikut hadir dalam acara yang sesungguhnya sudah lama saya nantikan itu. Bagi saya, Jogloabang saya nilai punya daya pesona dan aura tersendiri. Para penggiat Jogloabang, selain menjadi pioner penggunaan software open source, juga amat peduli terhadap perkembangan lingkungan pedesaan yang selama ini memang telah menjadi “mazab” dalam web komunitasnya. Mohon maaf Mas Suryaden, Mas Ciwir, dan sahabat-sahabat bloger Jogloabang atas ketidakhadiran saya dalam momen silaturahmi yang amat menjanjikan nilai keakraban dan kekeluargaan itu. Mohon dimaklumi, antara 26-29 September ini, saya tidak bisa meninggalkan rumah. Kebetulan saja, tetangga sebelah yang sangat dekat dengan saya dan keluarga, pada 28 September nanti sedang punya hajat mantu. Saya dan keluarga didaulat untuk ikut membantu menyiapkan segala sesuatunya. Kemudian, keesokan harinya, gubug saya jadi tempat pelaksanaan halal-bihalal keluarga besar SMP 2 Pegandon, tempat saya mengajar selama ini.

Obrolan semacam itulah yang saya sampaikan kepada Mas Khika yang tampak begitu bersemangat untuk datang ke Jogloabang.

“Apa tidak kontak dulu ke Mas Suryaden, Mas Khika?” tanya saya.

“Itu yang selalu saya hindari, Pak. Biar ada surprise, hehe …. Apalagi, kalau saya ngobrol dengan Suryaden dan Senoaji…” jawab Mas Khika.

Loh, memangnya kenapa?”

“Ndak pernah bisa akur, Pak, hehe …. Selalu saja ndak ada yang mau ngalah, wakakaka …” selorohnya.

“Walah!”

Meski pertemuan saya dengan Mas Khika cukup singkat, tapi selalu menjanjikan geliat persaudaraan dan keakraban. Bisa jadi, inilah salah satu manfaat ngeblog. Punya banyak sahabat dan saudara. Ke mana-mana hanya tinggal meninggalkan pesan lewat chat, FB, email, atau sms.

Saya pun tak sanggup menahan kepergian Mas Khika yang masih harus melanjutkan perjalanannya ke Batang, ke kampung kelahirannya itu. Ok, Mas Khika, selamat berkelana, semoga lancar dan selamat! ***

hackerBlog Catatan Sawali Tuhusetya yang selama ini saya kelola, kembali kena hack. Tampilan blog yang saya kelola sejak Januari 2008 itu sudah di-deface habis-habisan. Ketika saya cek file-file index-nya, ternyata sudah berubah semua dan disusupi banyak kode sialan yang disusupkan oleh sang hacker. Kalau kena hack seperti ini, biasanya saya langsung menggantinya dengan file index aslinya. Dan seperti biasanya pula, blog akan segera pulih. Namun, kejadian kali ini benar-benar membuat saya mati kutu. Berulang-ulang saya ganti, ternyata tak ada perubahan.

Saya mencoba membuka cpanel. Begitu login, doh, ternyata cpanel-nya malah yang kena. Saya sudah dua kali mengirim informasi kepada pihak hosting tentang kejadian yang menimpa saya itu. Namun, hingga berjam-jam lamanya tak ada jawaban. Bahkan, hingga tulisan ini saya buat, cpanel itu tetap tak ada perubahan. Warna gelap dengan kibaran bendera Turki masih bertengger dengan pongah di sana.

Sungguh, baru kali ini saya mengalami kejadian aneh, cpanel yang demikian mudahnya dibobol oleh seorang hacker. Apakah ini pertanda bahwa hosting yang selama ini saya gunakan untuk mengendalikan blog sawali.info benar-benar sudah tidak aman? Ada sahabat bloger yang mengalami kejadian serupa? ***

selamat idul fitri

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN:

SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

SEMOGA KITA BENAR-BENAR KEMBALI KEPADA FITRAH-NYA, AMIIIN.

ubuntu1Ternyata ada untungnya juga jadi orang nekad. Nekad untuk bisa secepatnya terlepas dari cengkeraman perangkat lunak berharga setinggi langit dari sang jendela yang bertahun-tahun lamanya telah melahirkan jamaah pembajak. Ya, ya, ya, harga produk-produk microsoft yang terbilang mahal, disadari atau tidak, justru telah membuka peluang pembajakan perangkat lunak sebagai sebuah budaya. Orang merasa tidak risih ketika perangkat lunak yang digunakan sejatinya merupakan produk tak halal dan nyata-nyata telah melanggar hak cipta.

Dalam kondisi demikian, sungguh sebuah terobosan yang menarik apabila penggunaan software open source terus digalakkan, utamanya kalangan kelas menengah ke bawah yang selama ini telah ikut terperangkap dalam sebuah imperium penjajahan yang “dengan sengaja” dilakukan oleh kaum pemilik modal.

Setelah nekad dan terus “terprovokasi” oleh beberapa teman yang sudah terlebih dahulu melenggang memaknai kebebasan dengan menggunakan perangkat lunak open-source, akhirnya saya berhasil juga melakukan migrasi. Pilihan jatuh pada software Ubuntu 9.04 yang menggunakan codename “Jaunty Jackalope”. Sebagai pengguna baru, pemilihan perangkat lunak itu bukan lantaran saya bisa membandingkan kelebihan dan kekurangan sebuah software, melainkan semata-mata nekad saja. Penginstalan Ubuntu 7.10 Gutsy Gibbon pernah memberikan pengalaman buruk buat pengguna perangkat IT yang gaptek seperti saya. Saya terpaksa beralih ke jendela karena fitur dan fasilitas yang ditawarkan belum sepenuhnya mendukung kinerja PC saya, mulai driver sound, video, printer, dan perangkat lunak yang lain.

Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope benar-benar mengubah pandangan saya tentang software open-source. Fitur dan perangkat yang ditawarkan sungguh membuat saya jatuh cinta. Ia tidak saja membebaskan saya dari mitos pembajakan, tetapi juga membuat saya bebas menikmati kemudahan-kemudahan dalam menginstal perangkat pendukung sistem operasi di netbook yang saya gunakan. Melalui terminal, synaptic, update manager, atau add/remove, saya bisa dengan mudah menginstalasi perangkat pendukung kinerja komputer. Kemudahan ini juga saya peroleh berkat “kemauan baik” sahabat-sahabat pengguna open source yang mau membangun semangat berbagi dan share dalam mengoptimalkan kinerja sofware open source dalam sistem operasi komputer. Saya bisa dengan mudah menemukan tulisan dan tutorial open source itu lewat search-engine.

Terima kasih para sahabat pengguna linux yang telah membuka mata fisik dan batin saya untuk tidak terus-terusan terperangkap dalam mitos pembajakan perangkat lunak dari tahun ke tahun. ***

Entah, produk budaya Indonesia apa lagi yang hendak dicaplok negeri Jiran. Yang pasti, hingga saat ini, sudah ada puluhan produk budaya kita yang nyata-nyata telah diklaim dan dipatenkan oleh sebuah negara kecil yang konon tak pernah merasakan etos perjuangan dan buta kebudayaan itu. Bagaimana tidak? Malaysia tak se-heroik Indonesia dalam berjuang merebut dan mempertahankan eksistensi negara-bangsa. Untuk mempertahankan dan merebut eksistensi negara yang merdeka dan berdaulat penuh, Indonesia mesti berdarah-darah dan mengorbankan segalanya. Lain halnya dengan Malaysia. Mereka bisa hidup makmur karena proteksi dan belas kasihan negara lain yang dulu menjajahnya. Semua kemanjaan mereka dapatkan secara instan. Tak heran apabila Malaysia ktak pernah bisa menghargai karya cipta dan kreativitas bangsa serumpun. Mereka juga tak pernah mengenal dan mengasah kepekaan kultural. Karena tak pernah mengenal dinamika berkesenian dan berkebudayaan, merka hanya bisa menjiplak, main klaim, mencuri, dan main caplok.

Ironisnya, pemerintah kita seperti tutup mata dan tutup telinga terhadap ulah negeri jiran itu. Apa tidak pernah terusik untuk berpikir, bagaimana nasib para perajin dan pekerja seni di negeri ini jika mereka harus menyerahkan sejumlah royalty ke negeri jiran karena secara hukum, kita sudah tak memiliki hak atas produk-produk budaya yang telah dipatenkan Malaysia itu.

Ulah Malaysia juga perlu dijadikan sebagai “warning” buat bangsa kita agar tak terlalu silau dengan budaya global yang selama ini (nyaris) telah menggerus jati diri bangsa. Kita yang selama ini abai terhadap budaya kita sendiri, baru teriak kencang-kencang setelah diklaim negeri lain. Dalam kondisi demikian, kita perlu membangun kembali kesadaran kultural secara kolektif setelah kita terninabobokan dan terhipnotis oleh kultur global yang secara langsung maupun tidak langsung telah membuat kita terlena dan abai terhadap budaya negeri sendiri.

Dari search engine, ada beberapa produk budaya Indonesia yang diduga telah dicaplok oleh Malasyia. Berikut ini daftarnya.
1.Batik
2.Tari Pendet
3.Wayang Kulit
4.Angklung
5.Reog Ponorogo
6.Kuda Lumping
7.Lagu Rasa Sayange
8.Bunga Rafflesia Arnoldi
9.Keris
10.Rendang Padang

batikpendetwayang kulitangklungreog-ponorogokuda_lumpingvisitmalingsiarafflesiakerisrendang-padang

Sementara itu, menurut versi budaya-indonesia.org, sudah lebih banyak lagi daftar artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan atau dieksploitasi secara komersial oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain. Berikut ini daftarnya:

  1. Batik dari Jawa oleh Adidas
  2. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  3. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  4. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
  5. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  6. Rendang dari Sumatera Barat oleh Oknum WN Malaysia
  7. Sambal Bajak dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Belanda
  8. Sambal Petai dari Riau oleh Oknum WN Belanda
  9. Sambal Nanas dari Riau oleh Oknum WN Belanda
  10. Tempe dari Jawa oleh Beberapa Perusahaan Asing
  11. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  12. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  13. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  14. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
  15. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
  16. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  17. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  18. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  19. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  20. Kursi Taman Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Perancis
  21. Pigura Dengan Ornamen Ukir Khas Jepara dari Jawa Tengah oleh Oknum WN Inggris
  22. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
  23. Desain Kerajinan Perak Desak Suwarti dari Bali oleh Oknum WN Amerika
  24. Produk Berbahan Rempah-rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia oleh Shiseido Co Ltd
  25. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
  26. Kopi Gayo dari Aceh oleh perusahaan multinasional (MNC) Belanda
  27. Kopi Toraja dari Sulawesi Selatan oleh perusahaan Jepang
  28. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
  29. Kain Ulos oleh Malaysia
  30. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
  31. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
  32. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia

Sudah saatnya kita kembali meneguhkan sikap untuk peduli dan membangun kesadaran kultural secara kolektif untuk merebut kembali produk budaya yang telah dicaplok orang itu. Sebagai bangsa yang besar, kita jangan gampang menyerah dan bersikap permisif. Ayo, rebut kembali produk-produk budaya bangsa kita yang hilang itu. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? ***

Siapa bilang santri itu gaptek? Sesekali, lakukanlah browsing. Lantas, ketikkan kata kunci “santri malhikdua” di search engine! Maka, Sampeyan akan menemukan sekitar 1,130 link hasil telusur yang direkomendasikan google untuk Sampeyan kunjungi. Ya, ya, ya, ribuan link tersebut sebagian besar merupakan postingan karya santri Ponpes Malhikdua yang terpublikasikan lewat blognya masing-masing. Lokasi pondok yang terletak di desa Benda Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes Jawa Tengah, agaknya bukan halangan bagi mereka untuk bersentuhan dengan internet.

damai_wardani.blogmalhikduadamai_wardani.blogmalhikduaSalah satu blog yang layak Sampeyan kunjungi adalah GARUDA With WHITE ROSE yang dikelola oleh SITI DZARFAH MAESAROH. Dengan tagline “Kreatifitas adalah ekspresi keunikan diri”, sang pemilik blog, damai_wardani –demikian siswi kelas I Madrasah Aliyah itu biasa menggunakan nickname-nya– tampak sekali ingin mengekspresikan keunikan dirinya lewat kreativitas –ini ejaan yang benar, bukan kreatifitas, hehe … –yang hendak terus dipacu di sela-sela rutinitas kesehariannya sebagai seorang santri yang sudah terbiasa hidup di lingkungan pondok dengan jadwal yang superketat. Toh, Damai Wardani, tetap bisa enjoy dan intens ngeblog. Aksi kreativitas dunia maya yang ditunjukkan oleh sang pemilik blog, jelas bisa menjadi tamparan serius buat anak-anak muda yang punya banyak waktu luang, tetapi sering menggunakan waktu luangnya terbuang sia-sia.

Dilihat dari arsip tulisan di blognya, Damai Wardani telah memulai ngeblog sejak September 2008. Ini artinya, sebentar lagi, dia sudah hampir setahun mengelola blog cantiknya itu. Dari sekian bulan, ada dua bulan yang dia absen ngeblog, yakni bulan November 2008 dan Juni 2009. Namun, kalau dilihat jumlah postingannya yang mencapai angka ke-103, jelas merupakan prestasi yang layak diacungi jempol. Kalau dirata—rata, dia sanggup menghasilkan 10 tulisan lebih pada setiap bulannya. Hmm … mengagumkan! Jelas bukan hal yang mudah untuk tetap bisa eksis ngeblog di tengah rutinitas yang menumpuk. Tulisannya juga bagus dan inspiratif. Polos, tak ingin menggurui, dan sebisa mungkin menghindari penggunaan bahasa prokem yang cenderung “meracuni” anak-anak muda dalam berekspresi.

Coba, simak saja tulisannya yang bagus berikut ini.

…….
Sebenarnya puisi itu bukan tercipta atas kesadarnku. Awalnya diminta membuatkan puisi dengan tema persahabatan dan perpisahan yang akan dibawakan oleh kakak kelas 3 dalam pentasa seni nanti ( tapi ini rahasia lho…) ternyata gagal karena orang yang akan membawakan tidak bisa hadir saat itu. Tak apa lah. Aku justru berterima kasih karena permintaan itu mengingatkanku akan produktivitas puisiku yang semakin menurun. Bahkan sangar drastis. Apa yang menyebabkan aku seperti ini? aku jadi teringat kata-kata Andreas Herafa, ” Bila manusia ( perseorangan maupun kelompok) tidak belajar selama sekian bulan, sekian tahun, sekian puluh tahun _ yakni seperti elite politik dimasa orde lama maupun orde baru juga para pejabat dilembaga-lembaga yangberkaitan dengan pendidikan_ dan kebudayaan_ maka yang terjadi bukan sekedar kemunduran, tetapi pembusukan danpembinatangan diri menjdi tidak manusiawi”

Penulis buku best seller ” Menjadi Manusia Pembelajar ” ini memang benar. Bulu kudukku berdiri ketika membaca kata-kata itu. Jangankan menulis puisi yang membutuhkan pemusatan pikiran dan diksi, menulis tangan yang teksnya sudah ada didepan mata pun bisa tuliasannya tidak bisa dibaca ( tulisaanya damai _kaya cakaran bebek_) bila memang lama tak menulis tangan (min: 1 bulan saja) iya kan? Llu bagaimana dengan otak kita? ternyata benar juga , kita diperintahkan untuk menuntut ilmu seumur hidup. Benar juga perumpamaan pisau yang tumpul dan tak bisa digunakan bila diasah bisa menjadi landep _bahasa jawa_. Sebaliknya, pisau yang runcing dan landep bila tidak digunakan dan tidak diasah lagi bisa karatan dan tidak terpakai. * iya, neng*

PS: ” Setiap detik waktumu didunia itu akan dipertanggungjawabkan diakherat ” (itu pesan ibu yang selalu ku ingat)
(Dikutip dari Kaku)

Hmm .. tulisan yang menarik. Ia berkata demikian jujurnya, tetapi tak terjebak pada gaya berekspresi yang linear. Ia berpikir multidimensional. Seperti orang main bola sodok, Damai Wardani tak langsung sekali tembak, tetapi selalu mengambil posisi “ngeban” dalam menembak sasaran. Ini yang membuat tulisan-tulisanya jadi renyah dan enak dibaca. Diksi yang digunakan juga lincah dan bernas, tak terjebak pada penggunaan langgam bahasa majas dan konotasi yang berlebihan. Ia juga tak suka mengumbar kata-kata vulgar yang acapkali menghinggapi anak-anak remaja sebayanya dalam menulis.

Tentu saja, masih banyak tulisan lain yang menarik untuk dibaca. Tidak percaya? Silakan kunjungi blognya, Sampeyan akan mendapatkan suguhan menu yang lezat dan mencerahkan. Kalau toh Sampeyan masih menemukan ejaan yang salah, misalnya Andreas Herafa, yang seharusnya Andreas Harefa, atau kata-kata lain yang salah ketik, termasuk penggunaan bentuk “di” sebagai kata depan atau awalan, bisa jadi itu di luar kontrol dia yang masih harus terus berkutat dengan berbagai aktivitas lain yang terus memburunya.

Terlepas dari itu semua, saya acungi jempol dan salut kepada Damai Wardani, santriwati remaja yang punya nyali besar untuk menulis dan terus menulis di sela-sela jadwal padatnya. Ayo, teruskan kreativitas menulismu di dunia maya, Damai! Kamu punya potensi besar untuk menjadi perempuan penulis hebat!

Saya juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pengelola malhikdua.com yang telah memberikan subdomain gratis kepada para santri untuk go-blog! Sebuah langkah hebat yang layak ditiru oleh institusi lain. Bravo Malhik 2! ***

Marhaban ya RamadhanBulan yang sarat dengan berkah dan maghfirah yang sudah kita tunggu selama satu tahun itu akhirnya tiba juga. Ya, ya, ya, bulan ini tidak saja menjanjikan dan “memanjakan” rohaniah kita karena setiap amal yang baik akan mendapatkan pahala berlipat-lipat, tetapi juga melatih kita untuk bersikap sabar dan mampu mengapresiasi pengejawantahan sikap qanaah, sabar, dan menghargai sebuah proses.

Nah, selamat menyongsong kehadiran bulan suci Ramadhan, semoga kita semua dapat menunaikan kewajiban mulia itu sebulan peniuh. Mohon maaf lahir dan batin.

Dirgahayu Negeriku!

HUT ke-64 RIDelapan windu sudah negeri ini merdeka. Sebuah angka unik yang menggambarkan sebuah kematangan dan kedewasaan hidup. Tidak salah kalau tema HUT RI tahun ini berbunyi:

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan Berpolitik dan Berdemokrasi serta Kita Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia yang Bersatu, Aman, Adil, Demokratis dan Sejahtera

Suasana heroik selalu saja mewarnai rutinitas tahunan setiap kali kita memasuki bulan Agustus. Ingatan kolektif kita diajak untuk melakukan flash-back, betapa para pendahulu negeri ini telah mengorbankan harta benda, raga, dan jiwa seutuhnya sebagai “tumbal” kemerdekaan negeri ini. Ingat pengorbanan para pahlawan, kita jadi sedih menyaksikan geliat dan dinamika negeri ini yang dinilai belum juga bergeser dari kubangan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Angka korupsi terus merangkak naik. Para koruptor yang jelas-jelas telah membuat negeri ini bangkrut masih belum juga diseret ke penjara. Angka pengangguran masih melonjak tajam. Rakyat yang berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, masih banyak yang harus terlunta-lunta tertelikung nasib.

Dunia pendidikan kita dinilai juga belum sanggup melahirkan generasi masa depan yang cerdas, bermoral, dan berbudaya. Banyak anak-anak dari keluarga miskin yang harus tersingkir dari bangku pendidikan akibat tak berdaya membayar biaya sekolah yang mahal. Mereka yang sudah bergelar sarjana masih juga terombang-ambing memikirkan masa depannya. Demikian juga dari ranah hukum, ekonomi, dan politik. Jurus-jurus ala Machiavelli masih sering kita saksikan, sehingga cara-cara yang bertentangan dengan akal sehat acapkali digunakan untuk memperkaya dan menyelamatkan diri.

Kita bukannya pesimistis. Namun, kalau kita mau jujur, situasi yang masih sarat dengan anomali sosial semacam itulah buah yang kita capai selama delapan windu merdeka. Semoga momen HUT ke-64 ini bisa menjadi bahan refleksi bagi seluruh anak bangsa untuk mempersembahkan yang terbaik buat bangsa dan negara, sehingga pengorbanan para pendahulu negeri ini tidak akan sia-sia. Semoga!

Dirgahayu Negeriku!

baronganKontes SEO bertema Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang digelar BeritaJitu.com sungguh menarik diikuti. Bukan lantaran SEO-nya, melainkan temanya yang memang menantang untuk dikaji dan didiskusikan. Secara jujur, kita mesti mengakui, bahwa jati diri bangsa kita belakangan ini memang menampakkan potret buram. Nilai-nilai kesejatian diri bangsa yang dulu terekspresikan melalui sikap ramah, santun, setia kawan, gotong royong, dan sikap-sikap fatsun kehidupan yang lain, makin memudar di tengah meruyaknya sikap pragmatis, materialistis, konsumtif, dan hedonis. Sikap ke-kita-an telah berubah menjadi sikap ke-kami-an, bahkan dinilai telah terdegradasi ke dalam sikap ke-“aku”-an. Dalam konteks demikian, tidak berlebihan apabila perlu ada upaya serius untuk mengembalikan jati diri bangsa yang dinilai telah hilang itu.

Pada saat awal-awal kebangkitan nasional, persoalan ke-aku-an, etnisitas dan kesukuan melebur menjadi sebuah kekuatan dahsyat hingga mampu memercikkan semangat pembebasan dari nilai-nilai kolonialisme yang dengan amat sadar dilakukan oleh kaum penjajah. Tonggak kebangkitan nasionalisme itu juga telah merangsang tumbuhnya keinsyafan kolektif sebagai bangsa yang bermartabat, terhormat, dan berdaulat. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”; begitulah adagium yang mampu memompakan semangat juang untuk menyatu dalam sebuah wadah kebersamaan menuju “Indonesia Baru”; Indonesia yang merdeka; bebas menentukan nasib sendiri; tanpa intervensi.

Nilai-nilai Kesejatian Diri yang Tererosi
Seiring dengan perubahan yang terus terjadi, sejak masa prakemerdekaan hingga pascakemerdekaan, nilai-nilai kesejatian diri itu dinilai juga mengalami pasang-surut. Dengan nada sedih, kita harus jujur mengakui bahwa nilai-nilai jati diri di negeri ini terus mengalami erosi. Tanpa bermaksud menjadikan nilai-nilai modernisme dan globalisme sebagai kambing hitam, disadari atau tidak, kita juga telah terperangkap, bahkan terjebak ke dalam nilai-nilai pragmatisme. Pergeseran nilai terus terjadi di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Semangat dan roh para pendiri negeri ini (nyaris) hanya memfosil dalam buku-buku sejarah dan museum. Selebihnya, kita telah “menuhankan” hal-hal yang pragmatis; politis dan ekonomis. Keinsyafan kolektif sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat, disadari atau tidak, telah menjelma menjadi kelatahan sikap yang memuja kebendaan dan kenikmatan semu. Bendera materialisme dan hedonisme terus berkibar di ranah-ranah publik. Secara kolektif, kita telah masuk perangkap pemujaan dan perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes materiil dan praktis.

Yang menyedihkan, upaya pewarisan semangat jati diri selama ini dinilai telah tereduksi oleh kekuasaan. Pemberangusan buku-buku sejarah, misalnya, adalah sebuah contoh konkret betapa fakta-fakta sejarah menjadi demikian rentan terhadap penafsiran penguasa. Buku-buku sejarah yang dinilai tidak berpihak kepada penguasa dibrangus tanpa ampun. Bisa ditebak, yang terjadi kemudian adalah pembonsaian generasi dan anak-anak bangsa. Mereka sengaja dikerdilkan dan dihambat pertumbuhannya agar tak bisa bebas mengerti persoalan masa lalu yang pernah dialami oleh masyarakat dan bangsanya. Dalam kondisi demikian, tidak berlebihan apabila banyak anak-anak negeri ini yang tidak tahu sejarah yang benar mengenai jati diri bangsa dan negerinya sendiri.

Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Kini, kita sudah merasakan atmosfer reformasi lebih dari satu dekade. Pertanyaan yang muncul adalah sudah adakah perubahan yang cukup bermakna dalam upaya mengembalikan jati diri bangsa yang dinilai telah tererosi itu? Lantas, bagaimana dengan bidang kebudayaan? Dengan nada sedih harus dikatakan bahwa budaya merupakan ranah yang tak tersentuh oleh reformasi, bahkan semenjak negeri ini berada di atas tungku kekuasaan Orde Baru. Kebudayaan benar-benar menjadi sebuah Indonesia yang tertinggal.

Lihatlah, betapa –meminjam istilah Slamet Sutrisno (1997) — semakin tidak intensnya seseorang dalam memburu jati diri yang lebih bermartabat. Perburuan gengsi yang berkembang dalam kelatahan membuat orang mengejar keberhasilan secara instan, entah melakukan korupsi atau usaha magis melalui cara mistis dalam memperoleh kekayaan. Pada hakikatnya mereka gemar menempuh terobosan dan “jalan kelinci” dengan sukses gaya “Abu Nawas”. Kursi empuk kepejabatan, titel, dan kedudukan keilmuan pun tak jarang disergap melalui kelancungan dalam ilmu permalingan”.

Agaknya, bangsa kita memang telah “ditakdirkan” untuk menjadi bangsa pelupa. Kita (nyaris) tak pernah belajar pada pengalaman-pengalaman masa silam. Yang sering kita ingat, bukan esensinya, melainkan asesorisnya. Kita lupa bahwa pada awal-awal pergerakan nasional, para pendiri negeri ini dengan amat sadar menyentuh persoalan kebudayaan sebagai basis perubahan dalam upaya menggapai jati diri. Kebudayaanlah yang telah menyatukan berbagai kelompok etnis dan suku ke dalam sebuah wadah, sehingga mampu menorehkan tinta sejarah melalui Gerakan Budi Utomo (1908) yang dikokohkan kembali melalui Sumpah Pemuda (1928). Berkat sentuhan kebudayaan, mimpi “Indonesia Baru” yang merdeka dan berdaulat akhirnya menjadi sebuah kenyataan.

Upaya mengembalikan jati diri bangsa itu agaknya hanya akan menjadi sebuah mimpi apabila ranah kebudayaan tak disentuh. Satu dekade lebih perjalanan reformasi seharusnya sudah mampu memberikan kemaslahatan publik dalam upaya mengembalikan jati diri yang dinilai telah hilang itu. Telinga kita sudah demikian jenuh mendengar bahasa politik dan ekonomi yang tak henti-hentinya mengedepankan “siapa yang menang” dan “apa untungnya”. Sudah saatnya kita memperluas makna perubahan dengan menyentuh akar-akar kebudayaan dengan mengedepankan pertanyaan “apa yang benar”.

Itulah yang selama ini kita lupakan sehingga lebih dari satu dekade reformasi belum juga menumbuhkan optimisme hidup dalam mengembalikan jati diri bangsa yang hilang. Kita merindukan “keinsyafan kolektif” untuk menyentuh kebudayaan sebagai salah satu dimensi kehidupan dalam menggapai kesejatian diri bangsa yang terhormat dan bermartabat. ***

Tulisan ini sekaligus juga sebagai bentuk dukungan terhadap tulisan “Mengembalikan Jati Diri Bangsa: Haruskah Menjadi Sebuah Utopia?” yang diikutsertakan dalam kontes SEO yang digelar oleh beritaJitu.com untuk yang pertama kalinya.

reyog ponorogo Sudah lama negeri kita dikenal sebagai sebuah bangsa yang kaya budaya. Keragaman budaya dengan corak multikultur-nya sudah menjadi brand yang mengagumkan. Banyak negeri lain yang merasa iri dengan kekayaan multikultur nusantara. Hampir setiap daerah memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang diekspresikan secara kreatif dalam produk-produk budaya yang indah dan eksotis, hingga membentuk mozaik budaya yang memiliki daya pikat dan daya pesona tersendiri.

Namun, sungguh disayangkan, keragaman dan kekayaan budaya itu memiliki ketahanan yang (nyaris) rapuh. Tak sedikit produk budaya nusantara yang dengan mudah diklaim negeri lain. Berikut ini daftar kesenian dan budaya nusantara yang telah direbut oleh pihak lain yang saya peroleh dari sini.

No. Kesenian dan Budaya Asal Direbut Oleh
1. Batik Jawa Adidas
2. Naskah Kuno Riau Malaysia
3. Naskah Kuno Sumatra Barat Malaysia
4. Naskah Kuno Sulawesi Selatan Malaysia
5. Naskah Kuno Sulawesi Tenggara Malaysia
6. Rendang Sumatra Barat WN Malaysia
7. Sambal Bajak Jawa Tengah WN Belanda
8. Sambal Petia Riau WN Belanda
9. Sambal Nanas Riau WN Belanda
10. Tempe Jawa Perusahaan Asing
11. Lagu Rasa Sayang Sayange Maluku Malaysia
12. Tari Reog Ponorogo Jawa Timur Malaysia
13. Tari Soleram Riau Malaysia
14. Lagu Injit – Injit Semut Jambi Malaysia
15. Alat Musik Gamelan Jawa Malaysia
16. Tari Kuda Lumping Jawa Timur Malaysia
17. Tari Piring Sumatra Barat Malaysia
18. Lagu Kakak Tua Maluku Malaysia
19. Lagu Anak Kambing Saya Nusa Tenggara Malaysia
20. Kursi Taman dengan Ornamen Ukir Khas Jepara Jawa Tengah WN Perancis
21. Pigura dengan Ornamen Ukir Khas Jepara Jawa Tengah WN Inggris
22. Motif Batik Parang Yogyakarta Malaysia
23. Desain Kerajinan Perak Desa Suwarti Bali WN Amerika
24. Produk Berbahan Rempah – Rempah dan Tanaman Obat Asli Indonesia Shiseido Co. Ltd.

Sungguh memprihatinkan! Bisa jadi daftar tersebut akan masih terus bertambah panjang jika tak ada upaya serius untuk membuat sebuah pertahanan budaya yang kokoh.

Sebagai sebuah produk budaya, hasil-hasil kesenian dan kebudayaan nusantara ini akan ikut menjadi faktor penentu terhadap kedaulatan bangsa dan negara. Kita tak tahu pasti, apa yang sedang melintas di benak para pengambil kebijakan di negeri ini. Saya yakin, mereka bukannya tidak tahu kalau ketahanan budaya bangsa kita mengalami kerapuhan dan mengalami proses pembusukan dari waktu ke waktu. Kesibukan memburu kekuasaan dalam ranah politik bisa jadi telah membuat mereka abai terhadap persoalan-persoalan substansial yang seharusnya secepatnya tertangani.

Pada era “perang terbuka” di era virtual seperti sekarang ini, agaknya hanya bangsa yang memiliki kepekaan dan kecanggihan budaya yang akan tampil sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat. Secara jujur harus diakui, dalam soal yang satu ini, bangsa kita belum memiliki “kemauan politik” untuk menyentuhnya secara serius.

Langkah nyata yang harus segera dilakukan –meminjam istilah Dadan Suhandana– dan mungkin dilakukan adalah membentuk aturan perundang-undangan dalam negeri yang menyediakan kebutuhan pengelolaan keragaman budaya nasional. Perlindungan secara hukum perundang-undangan terhadap keragaman budaya nasional, selanjutnya dapat dijadikan pijakan dasar untuk menjaga kedaulatan bangsa sehingga bisa diakui di dunia internasional. Lebih jauh, harus ada sebuah kesadaran dan pengakuan oleh dunia internasional bahwa perundang-undangan akan kepemilikan Negara terhadap ekspresi budaya, sangat diperlukan oleh Indonesia guna menjaga ketahanan nasional dan kedaulatan negaranya. Hal ini tentunya bisa dijadikan momentum bersama bangsa Indonesia dalam memaknai Kebangkitan Nasional yang baru, yang diwujudkan dalam tindakan nyata dalam menegakkan kedaulatan bangsa melalui Konsep Pertahanan Budaya. Sudah saatnya kini bangsa Indonesia membuat suatu perlindungan hukum semisal Paten Negara atau yang lebih jauh Pengakuan Internasional bagi Ekspresi Budaya Bangsa Indonesia.

Semoga saja kepekaan para pengambil kebijakan terhadap masalah ketahanan budaya itu masih ada dan terus menggelora dari waktu ke waktu. Jangan sampai baru berteriak setelah semua ketahanan budaya negeri ini lumpuh dan tak berdaya. ***

blog agregatorSebagaimana saya tulis di sini, saya dulu pernah membuat blog agregator personal. Tujuan blog tersebut –meminjam istilah Pak Marsudiyanto—adalah untuk meneropong update postingan sahabat-sahabat bloger yang alamat feed/rss-nya saya langgan. Selain itu, juga sekadar untuk ikut membantu memperkenalkan blog sahabat.

Namun, agaknya blog agregator yang dulu saya buat ada sedikit masalah karena memanfaatkan ad-on domain, sehingga spase-nya jadi boros. Agar lebih fresh, saya mengalihkannya ke alamat baru di sini. Domain yang saya gunakan adalah domain gratisan yang disediakan co.tv dengan menggunakan hosting 0fees.net. Mudah-mudahan saja stabil. Sebagaimana blog agregator sebelumnya, blog ini juga saya buat dengan memanfaatkan plugin feedwordpress.

Keuntungan yang bisa diperoleh dengan memasukkan alamat feed/rss blog ke sebuah blog agregator adalah backlink otomatis. Backlink otomastis ini diperoleh berdasarkan permalink asli dari blog yang saya langgan, sehingga begitu diklik judul postingannya, kita akan langsung diarahkan ke blog yang bersangkutan. Dengan cara demikian, setidak-tidaknya blog agregator bisa ikut membantu sahabat-sahabat bloger dalam menaikan rank blognya. Melalui blog agregator pula, kita bisa membaca banyak postingan –meski baru sebatas ringkasan feed-nya—tanpa harus berkunjung satu per satu ke blog yang hendak kita tuju.

Kehadiran blog agreator personal ini lebih saya maksudkan untuk lebih mengakrabkan jalinan silaturahmi antarbloger. Feed-feed postingan yang tampil hanya bisa dibaca di halaman depan saja. Jika ingin membaca postingan secara utuh, kita cukup mengklik judunya, sehingga kita akan langsung dibawa ke blog aslinya. Sahabat-sahabat yang suka blogwalking bisa memanfaatkan blog personal ini untuk mengikuti update terbaru dari blog langganan saya.

Sampeyan tertarik untuk ikut mendaftar? Silakan langsung melucur ke TKP! ***

Kita masih belum juga bisa memahami mengapa kekerasan demi kekerasan terus berlangsung di negeri ini. Belum reda sebuah aksi kekerasan tertangani, sudah muncul kasus kekerasan lain yang jauh lebih pelik dan kompleks. Terakhir, Jumat pagi, 17 Juli 2009, sekitar pukul 07.45 dan 07.48 WIB, dua bom meledak di dua tempat yang berbeda pada saat yang hampir bersamaan, yaitu Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan dan Hotel Ritz Carlton di kawasan SBCD. Akibatnya jatuh puluhan korban luka dan beberapa korban tewas, sebagiannya adalah warga asing. Insiden ini jelas makin memperpanjang daftar kasus teror bom yang pernah mengoyak imaji sebagai bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat.

Berikut ini beberapa rekaman video dari youtube yang memperlihatkan kronologi tragedi memilukan itu.





Sebagai bangsa yang sudah lama merdeka, seharusnya kita bisa banyak belajar dari kasus-kasus kekerasan yang pernah terjadi. Upaya serius untuk menanganinya perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak parsial.

Banyak kalangan berpendapat bahwa aksi teror bom ini sangat erat kaitannya dengan doktrin Islam garis keras yang konon suka menggunakan budaya kekerasan sebagai media jihad dalam platform perjuangannya. Hmmm … sepanjang pemahaman awam saya, Islam tak pernah mengajarkan kekerasan. Bahkan, Islam selalu berupaya mengajarkan nilai kasih sayang kepada sesamanya. Ini artinya, dengan dalih apa pun, Islam tak akan pernah menolerir kekerasan di sebuah negeri yang sudah lama merdeka. Kalau toh itu benar dilakukan orang yang memiliki doktrin garis keras atau apa pun istilahnya, mestinya bukan Islam yang dituding, melainkan pelakunya.

Kita berharap, semoga teror bom yang mengguncang Jakarta menjadi peristiwa tragis yang terakhir kalinya, dan menjadi starting point bagi negeri ini dalam meretas budaya kekerasan yang belakangan ini mulai menggejala di berbagai lapis dan lini kehidupan. Apa pun alasannya, kekerasan dan teror hanya akan menumbuhkan segudang konflik yang akan terus melahirkan rentetan konflik-konflik berikutnya. ***

awardEntah, sejak kapan tradisi itu berawal. Siapa pengagas awalnya juga tak jelas benar. Yang pasti, pemberian award antarbloger di kompleks blogosphere makin marak sejak dua tahun belakangan ini. Bagi saya, pemberian award semacam ini merupakan wujud penghargaan dan apresiasi antarsesama bloger sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk sosial seperti halnya dalam dunia nyata.

Di kompleks blogosphere, bloger juga punya keinginan yang kuat untuk membangun ikatan-ikatan sosial secara maya. Budaya silaturahmi dan saling berkunjung di rumah maya menjadi salah satu aktivitas yang sering dilakukan seorang bloger. Situasi semacam ini, diakui atau tidak, telah menumbuhkan ikatan emosional antarbloger sehingga proses aktualisasi diri di dunia maya bisa makin eksis dan legitimate.

Demikian juga halnya dengan saya *halah*. Sebagai salah satu bagian kecil dari masyarakat maya, saya sudah beberapa kali menerima award dari beberapa sahabat bloger. Terakhir, saya menerima award dari Mas Morishige. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih kepada Mas Morishige yang telah berkenan memberikan award itu buat saya sehingga makin menambah koleksi dalam pundi-pundi award saya, hehe …

Menurut Mas Morishige, award ini diberi nama Nice Visitor Award. Dia mendapatkannya dari si Riffy ini dibikin oleh sisternya, Jiyy. “Dibuat khusus buat setiap blogger yang datang berkunjung ke sebuah blog dan dianggap sebagai visitor yang menyenangkan. Entah karena rajin leave comment atau pernah memberi komentar yang berkesan,” tuturnya.

Konon, penerima award ini mesti mematuhi aturan main seperti berikut ini.
1. give this award ke 3 blogger yang menurud kamu pantas nerima award ini .
2. kasih tahu siapa yang ngasih. jangan lupa, masukan link si pemberi ya?
3. tinggalkan komentar ke blogger yang menerima award ini.
4. pajang gambarnya di postingan kamu!!! lebih baik jika mengambil kode HTML-nya di sini.
5. cantumin link gue and link sista gue di postingan kamu !!!
(Bahasa sesuai dengan url aslinya, hehe ….).

Karena hanya 3 bloger yang boleh menerima award, saya ingin memberikan award lanjutan ini kepada sahabat-sahabat bloger Kendal yang lumayan eksis hadir di kompleks blogosphere, yakni:
Pak Marsudiyanto
Pak Wandi
Pak Sholeh

Sebenarnya di Kendal sudah ada beberapa bloger yang eksis melakukan aktivitas ngeblog dan layak mendapatkan award dari sesama bloger Kendal sendiri. Namun, apa daya, konon, aturan main mesti dijalankan, hiks. Ok, ya gitu, deh! Terima kasih semuanya. ***

notebookAlhamdulillah, setelah mengikutsertakan blog Catatan Sawali Tuhusetya dalam BlogCompetition 2009 yang digelar oleh Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, dinyatakan oleh Dewan Juri sebagai pemenang hadiah utama berupa Netbook Axioo Pico. Sebagaimana diketahui, kompetisi tersebut diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Lustrum yang ke-3 (1994-2009), Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia untuk kalangan pendidik tingkat TK hingga SMA (atau yang sederajat) se-Indonesia.

Berikut pengumuman Pemenang BlogCompetition 2009 sebagaimana dipublikasikan di http://lustrum.informatics.uii.ac.id/blogcompetition/pengumuman-pemenang-blogcompetition-2009/

Pengumuman Pemenang BlogCompetition 2009
Berdasarkan penilaian dari tim juri sesuai dengan kriteria penilaian yang berlaku, maka diputuskan pemenang BlogCompetition 2009 adalah sebagai berikut:

Pemenang Hadiah Utama (Netbook Axioo Pico)

Sawali http://www.sawali.info
Pemenang Hadiah Hiburan (USB Flash Drive 4GB)

Heribertus Heri Istiyanto http://www.istiyanto.com
Arif Kristanta http://www.arifkristanta.wordpress.com
Mansur http://www.pakmansur.blogspot.com
Mujiyem http://mujiyem.sman1bantul.sch.id
Zuhaira Haurani http://www.zuhairahaurani.blogspot.com
Agung Wicaksono http://agungprudent.wordpress.com
Dhesy Anang Kurnia http://www.gurupemula.co.cc
Suedi Ahmad http://www.suediguru.blogspot.com
Doni Riadi http://www.doniriadi.blogspot.com
Komariyanto http://www.komariyantostemba.blogspot.com
Hadiah akan dikirim ke alamat sekolah masing-masing yang telah diberikan pada formulir pendaftaran. Untuk konfirmasi dan atau perbaikan alamat bisa dilakukan melalui e-mail blogcompetition@lustrum.informatics.uii.ac.id selambat-lambatnya hari Kamis, 16 Juli 2009.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan. Kami ucapkan selamat kepada para pemenang, dan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dalam BlogCompetition 2009 ini.

NB: Keputusan tim juri tidak dapat diganggu-gugat.

Saya mengucapkan terima kasih kepada segenap Dewan Juri dan Panitia BlogCompetition 2009, semoga hal ini bisa makin memicu saya untuk ikut berkiprah dalam membudayakan aktivitas ngeblog di kalangan guru. ***

Benarkah kita hidup di tengah peradaban horor? Bagaimana kita mesti memaknai meruyaknya berbagai bentuk kekerasan, korupsi, manipulasi, atau kejahatan yang tampil begitu telanjang dan vulgar di depan mata kita? Haruskah kita terus tenggelam dalam kubangan budaya “horor” yang nyata-nyata telah menanggalkan hakikat kemanusiaan kita yang tanpa disadari telah menjadikan kita sebagai sosok-sosok buas dan kanibal yang rela memangsa sesamanya demi memuaskan hasrat kebuasan hati?

karnavalPascakemerdekaan, setidaknya kita telah melampaui tiga orde, yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Namun, banyak kalangan menilai, dari tiga orde yang kita lalui, (nyaris) belum manghasilkan perubahan yang mampu mengangkat harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan terhormat. Situasi transisi dari satu orde ke orde berikutnya, selalu saja menampilkan drama horor yang berending tragis; yang telah meluluhlantakkan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.

Era Orde Lama, misalnya, – meminjam istilah Budiman (2008) — telah menghasilkan manusia Indonesia sebagai “manusia ideologis”, yaitu manusia yang sarat dengan ide dan slogan-slogan ideologis. Berbagai slogan rakyat sebagai “pejuang”, sebagai “berdiri di atas kaki sendiri”, sebagai “nasionalis” menjadi bagian realitas manusia Orde Lama (Orla). Meski demikian, Orla gagal meningkatkan harkat kemanusiaan itu sendiri, disebabkan kegagalannya dalam memenuhi satu dimensi kemanusiaan, yaitu dimensi ekonomi. Kekerasan berlangsung karena ideologi dan kemiskinan.

Era Orde Baru, telah menghasilkan “manusia-manusia mekanis”, yakni manusia-manusia pembangunan yang pikirannya justru dikosongkan dari ideologi-ideologi, untuk kemudian diisi dengan satu-satunya “ideologi”, yaitu ideologi pembangunanisme. Manusia kemudian menjadi sekumpulan komponen dari “mesin pembangunan”, yang di dalamnya berlangsung industrialisasi pikiran, berupa penyeragaman, standardisasi dan pembatasan-pembatasan terhadap manusia. Di dalamnya, berlangsung berbagai bentuk kekerasan dan in-humanitas, seperti penculikan, penyekapan, penangkapan paksa, ketimpangan, marjinalisasi, peminggiran, pemaksaan, represi, subordinasi, jual paksa, penyerobotan hak milik, perampasan hak pribadi menjadi bagian dari mesin pembangunan yang tidak manusiawi.

demoSementara itu, pada era Reformasi –disadari atau tidak—telah terjadi fragmentasi besar-besaran manusia sebagai akibat terbukanya pintu demokratisasi dan kebebasan. Akan tetapi, ironisnya, iklim reformasi justru telah menciptakan manusia- manusia yang kini lebih mementingkan diri sendiri, yakni manusia-manusia yang dapat melakukan apa saja terhadap manusia lain dan melahirkan juga manusia-manusia buas yang dapat menerkam dan memangsa negara hingga sekarat, demi memenuhi hasrat dan kepentingannya; mereka suka mengeksploitasi manusia-manusia lain sebagai “manusia komoditas” yang dieksploitasi tenaga, tubuh dan keterampilannya, demi kepentingan ekonomi, politik, dan keselamatan pribadi. Tanpa disadari, bangsa kita telah menjadi “pemuja” ritual arak-arakan, karnavalisme, retorika, pidato, pawai, dan bahkan demonstrasi, yang makin berdampak luas terhadap tatanan nilai dan norma-norma peradaban masyarakat.

Kini, sudah seabad lebih bangsa kita mengalami momentum kebangkitan nasional. Sudah selayaknya segenap komponen bangsa melakukan refleksi terhadap peradaban “horor” yang nyata-nyata telah kita rasakan amat mengusik nurani kemanusiaan kita. Semua pihak yang memiliki kekuatan untuk membangun peristiwa horor dengan segenap implikasi yang ditimbulkannya perlu melakukan “rehumanisasi” untuk menegakkan dan membangun kembali pilar-pilar kemanusiaan dan peradaban sipil yang (nyaris) runtuh.

Yang perlu segera dilakukan adalah meminimalkan efek-efek kerusakan dan mengontrol kompleksitasnya sehingga tidak jauh membentuk lubang-lubang kekerasan yang makin membuka dan meluas. Selain itu, aksi-aksi kemanusiaan yang sanggup membuka ruang untuk menumbuhsuburkan sikap toleransi, setiakawan, berdialog, dan berkomunikasi lintasbudaya perlu diagendakan agar mampu menciptakan generasi masa depan yang lebih toleran, inklusif, damai, dan ramah, yang tidak lagi menganggap dirinya sebagai kelompok promordial yang eksklusif, superior, dan dominan.

Tak lama lagi, bangsa kita juga akan menggelar sebuah hajat besar yang akan ikut menjadi penentu masa depan negeri ini pada kurun waktu lima tahun mendatang, yakni Pemilu untuk memilih presiden dan wakil presiden. Sungguh, tak ada alasan bagi siapa pun untuk membangun sebuah kekuatan “predator” yang akan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara hanya sekadar untuk memburu hasrat kepentingan dan kekuasaan semata. Segenap komponen bangsa juga perlu mengawal pesta dan hajat besar itu agar jangan sampai berubah menjadi “ladang kekerasan” yang bisa membuat peradaban horor di negeri ini kian memfosil dan menyejarah.

Roh para pendiri negeri ini tentu akan meratap dan menangis apabila negara-bangsa yang telah dibangun dengan susah-payah itu terpaksa harus bersimbah darah akibat pertarungan antarsesama anak bangsa hanya lantaran perbedaan paham dan kepentingan. ***

———————-
Gambar diambil dari inilah.com

petaindonesiaKita memang sudah menghirup udara kemerdekaan lebih dari 60 tahun. Jika dianalogikan dengan usia manusia, negeri ini bisa dibilang cukup tua. Wajahnya sudah mulai tampak keriput. Tenaganya seringkali sempoyongan ketika memanggul beban. Namun, dari sisi pengalaman hidup, jelas sudah banyak dinamika kehidupan yang dilaluinya. Dalam kondisi demikian, idealnya negeri ini sudah memiliki kematangan dan kedewasaan sikap dalam menentukan nilai-nilai kearifan dan fatsun kehidupan yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi dalam mencapai kemajuan dan kualitas hidup bangsa.

Meski demikian, secara jujur mesti diakui, semakin bertambahnya usia, bangsa kita justru semakin dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan yang makin rumit dan kompleks. Bangsa kita tak hanya dihadapkan pada persoalan-persoalan eksternal ketika dunia sudah menjadi sebuah “perkampungan global”, tetapi juga dihadapkan pada persoalan-persoalan internal yang justru makin menambah beban bangsa makin berat. Silang-sengkarutnya persoalan ekonomi, masih banyaknya kasus “mafia” peradilan yang menghambat supremasi hukum, sistem pendidikan yang masih amburadul, wajah demokrasi yang sarat “pembusukan”, atau berbagai fenomena anomali sosial yang marak terjadi di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat, merupakan beberapa contoh fenomena betapa negeri ini telah kehilangan nilai-nilai kearifan dan fatsun kehidupan. Tidak berlebihan jika dinamika kehidupan negeri ini terkesan stagnan, bahkan mengalami set-back jauh ke belakang.

Homo Violens
Yang lebih mencemaskan, negeri ini dianggap telah kehilangan nilai-nilai kesejatian diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat akibat meruyaknya aksi-aksi kekerasan dan vandalisme yang tak henti-hentinya menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa kita yang multikultur dan multiwajah dinilai telah kehilangan sikap ramah. Nilai-nilai keberadaban telah tereduksi oleh sikap-sikap kebiadaban yang membudaya dalam bentuk tawuran pelajar, pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, aborsi, dan berbagai perilaku vandalistis lainnya yang menggurita di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Sentimen-sentimen primordialisme berbasis kesukuan, agama, ras, atau antargolongan menjadi demikian rentan tereduksi oleh emosi-emosi agresivitas. Bangsa kita seolah-olah telah menjelma menjadi “homo violens” yang menghalalkan darah sesamanya dalam memanjakan naluri dan hasrat purbanya.

Memang bukan hal yang mudah untuk memutus mata rantai kekerasan sebagai ekspresi bangsa yang “murka” akibat pasungan rezim masa lalu yang bertahun-tahun lamanya “memenjarakan” anak-anak bangsa dalam tungku kekuasaan yang dianggap tertutup, tiran, dan tidak adil. Kesenjangan sosial-ekonomi yang begitu lebar, disadari atau tidak, telah membuat kehidupan masyarakat di lapisan akar rumput menjadi gampang putus asa dan rentan terhadap aksi-aksi kekerasan. Para pakar sosiologi mengemukakan bahwa tekanan ekonomi yang berat bisa menjadikan seseorang atau kelompok sosial tertentu mengalami frustrasi akibat merasa tersingkir dari persaingan hidup komunitasnya. Imbasnya, jika mereka mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan frustrasinya, aksi kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi cara yang jitu dan “sah” bagi mereka. Lebih-lebih gaya hidup orang kaya baru (the new rich) yang pamer kekayaan, sungguh mempraktekkan pola hidup konsumtif yang kontras secara diametral dengan hidupnya yang serba tertekan, maka kemungkinan terjadinya konflik dan kerusuhan semakin terbuka.

Pembangunan ekonomi negeri kita yang telah berlangsung sejak rezim Orde Baru dinilai telah melahirkan suatu kelompok sosial yang konsumtif. Mereka tinggal di kota-kota besar, mengonsumsi sekitar lebih dari sepertiga pendapatan nasional, amat gemar berbelanja, memiliki rumah dan mobil-mobil mewah, bergaya hidup glamor, menjadi anggota berbagai klub eksekutif yang mahal, tetapi cenderung bersikap cuek pada gagasan-gagasan perubahan. Manusia modem, dalam pandangan Hembing Wijayakusuma (1997), telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan industri telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya, tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhkan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.

Akibat pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan moral serta religi. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika. Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian.

Ranah Pendidikan
“Historia est Magistra Vitae”, demikian ungkapan Latin yang nyaring terdengar itu. Ya, sejarah adalah guru kehidupan. Berkaca pada lintasan sejarah dari generasi ke generasi, sudah saatnya bangsa kita kembali memburu dan menemukan kesejatian diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat. Temukan kembali sikap ramah itu menjadi entitas karakter bangsa yang telah lama hilang, untuk selanjutnya diapresiasi dan menjadi laku utama dalam kehidupan sehari-hari.

Ramah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengandung arti: “baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan.” Beranjak dari pengertian ini, sikap ramah jelas akan memberikan nilai tambah buat bangsa yang kini tengah memasuki peradaban yang “sakit” dan sarat dengan berbagai pembusukan yang bisa mengikis kesejatian diri bangsa. Oleh karena itu, menggali dan merevitalisasi nilai-nilai keramahan menjadi hal yang niscaya dilakukan oleh segenap komponen bangsa. Sikap ramah juga akan mampu menanggalkan sikap-sikap congkak, dendam, dan kebencian, yang selama ini benar-benar telah membuat bangsa kita terpuruk ke dalam kubangan stagnasi dan situasi yang serba chaos. Sangat beralasan ketika bangsa lain sudah melaju mulus di atas “jalan tol” peradaban dunia, bangsa kita justru masih bersikutat di balik semak-belukar lantaran sibuk menaburkan bibit-bibit dendam dan kebencian terhadap sesamanya.

Akar kekerasan yang membelit sendi-sendi kehidupan bangsa tentu saja tidak lahir begitu saja. Sistem pendidikan kita yang belum efektif dalam melahirkan generasi-generasi masa depan yang cerdas sekaligus bermoral yang kemudian “berselingkuh” dengan kultur sosial masyarakat kita yang sedang chaos dan “sakit” setidaknya telah memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan lingkaran kekerasan itu.

Fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab –sebagaimana termaktub dalam pasal 3 UU Sisdiknas– (nyaris) hanya menjadi slogan ketika kultur sosial masyarakat dinilai tidak cukup kondusif dalam mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang nyaman dan mencerahkan.

Nilai-nilai luhur baku yang digembar-gemborkan di lembaga pendidikan (nyaris) tak bergema dalam gendang nurani siswa didik ketika berbenturan dengan kenyataan sosial yang chaos dan “sakit”. Nilai-nilai kesantunan dan keberadaban telah terkikis oleh meruyaknya perilaku-perilaku anomali sosial yang berlangsung di tengah panggung kehidupan masyarakat. Ketika guru menanamkan nilai-nilai moral dan religi, para siswa harus melihat kenyataan, betapa masyarakat kita demikian gampang kalap dan lebih mengedepankan emosi ketimbang logika dan hati nurani dalam menyelesaikan masalah. Nilai-nilai kearifan dan kesantunan telah terbonsai menjadi perilaku yang sarat darah dan kekerasan. Ketika guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, betapa anak-anak masa depan negeri ini harus menyaksikan banyaknya kaum elite yang tega melakukan pembohongan publik, manipulasi, atau korupsi. Hal itu diperparah dengan tersingkirnya anak-anak miskin dari dunia pendidikan akibat ketiadaan biaya.

Sampai kapan pun lingkaran kekerasan di negeri ini tidak akan pernah bisa terputus apabila tidak didukung oleh atmosfer dunia pendidikan yang nyaman dan mencerahkan serta kultur sosial yang kondusif. Oleh karena itu, sudah selayaknya fenomena kekerasan ini mendapatkan perhatian serius dari semua komponen bangsa untuk menghentikannya. Para elite negeri, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, orang tua, atau pengelola media, perlu bersinergi untuk bersama-sama membangun iklim kehidupan yang nyaman dan mencerahkan di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat. Demikian juga dari ranah hukum. Perlu diciptakan efek jera kepada para pelaku kekerasan agar tidak terus-terusan mewabah dan memfosil dari generasi ke generasi.

Selain itu, idealnya lingkungan keluarga juga harus memiliki filter yang kuat terhadap gencarnya arus perubahan yang tengah berlangsung. Dalam konteks demikian, peran orang tua menjadi amat penting dan vital dalam memberdayakan moralitas anak. Orang tualah yang menjadi referensi utama ketika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Idealnya, orang tua mesti bisa menjadi “patron” teladan. Anak-anak sangat membutuhkan figur anutan moral dari orang tuanya sendiri, yang tidak hanya pintar “berkhotbah”, tetapi juga mampu memberikan contoh konkret dalam bentuk perilaku, sikap, dan perbuatan.

Masyarakat juga harus mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan kontrol yang ikut mengawasi perilaku kaum remaja kita. “Deteksi” dini terhadap kemungkinan munculnya perilaku kekerasan mutlak diperlukan. Potong secepatnya jalur agresivitas yang kemungkinan akan menjadi “jalan” bagi penganut “mazab” kekerasan dalam menyalurkan naluri agresivitasnya. Ini artinya, dibutuhkan sinergi yang kuat antara dunia pendidikan, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama peduli terhadap perilaku kekerasan yang (nyaris) menjadi budaya baru di negeri ini.

Sungguh, kita sangat merindukan Indonesia yang multiwajah dan multikultur serta memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang begitu beragam itu ditaburi dengan nilai-nilai keramahan, kearifan, dan fatsun kehidupan di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Jangan sampai terjadi pesona kekerasan, arogansi kekuasaan, dan emosi-emosi agresivitas purba yang serba naif, sebagaimana disindir W.S. Rendra dalam “Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon” berikut ini menjadi “fosil” yang makin memperkuat stigma bangsa kita sebagai bangsa bar-bar dan biadab.

………………………………………
Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.
Aku menatap senjakala di pelabuhan.

Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya! Ya! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.

Ya! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan diadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan?
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak?
Apakah kata nurani kemanusiaan?

O, Senjakala yang menyala!
Singkat tapi menggetarkan hati!
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang!

O, gambaran-gambaran yang fana!
Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senjakala,
maka nurani dibius tipudaya.
Ya! Ya! Akulah seorang tua!
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.

Pejambon, 23 Oktober 1977
(“Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon” karya W.S. Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi)

Nah, bagaimana? ***

(Mengawal dinamika reformasi)

Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini diawali dengan dua peristiwa penting Boedi Oetomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Sutomo, Gunawan, dan Tjipto Mangunkusumo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Douwes Dekker, dll

Selanjutnya pada 1912 berdirilah partai politik pertama Indische Partij. Pada tahun ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta) dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera di Magelang.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.